Minggu Pagi di Victoria Park


Kembali, sebuah cerita tentang lika-liku kehidupan diangkat ke layar lebar. Minggu Pagi di Victoria Park, merupakan judul film yang diambil dari kisah nyata para tenaga kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong. Lewat film tersebut, sang sutradara, Lola Amaria mencoba menggambarkan sisi lain kehidupan seorang TKI.

Ternyata, menjadi TKI tidak selamanya sial. Hong Kong, bisa dibilang “surga” untuk para TKI. Di sana, tidak ada pelecehan, kekerasan, atau penunggakan gaji. Namun, tidak sembarang orang bisa melamar menjadi TKI di Hong Kong. Pendidikan dan keterampilan khusus adalah modal wajib TKI untuk bekerja di Hong Kong.

Berkaca dari keadaan Hong Kong yang aman, tak heran bila Lola, Noe Letto, dan Dewi Umaya Rachman tertarik mengangkat isu TKI menjadi tontonan. Meskipun menelan biaya miliaran rupiah, mereka tidak rugi. Apalagi dalam film Minggu Pagi di Victoria Park, banyak pesan moral yang akan disampaikan.

“Lewat film ini, kami memaparkan problematika TKI atau buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Hidup mereka sangat unik. Meskipun hanya sebagai pembantu rumah tangga, taraf hidup mereka tergolong layak. Bahkan, penampilan BMI di Hong Kong tidak kalah dengan artis-artis Indonesia,” ujar Lola Amaria saat ditemui usai berbuka puasa di Justeak restoran, Mahakam, Selasa (15/9) Jakarta.

Dalam film Minggu Pagi di Victoria Park, Lola ikut bermain sebagai TKI. Lola memerankan Mayang, yang dipaksa orangtuanya mencari sang kakak di Hong Kong.

Dengan berat hati, Mayang berangkat ke Hong Kong. Seorang diri, ia mencari kakaknya Sekar yang sudah dua tahun bekerja di Hong Kong.

Bukannya berhasil membawa Sekar pulang ke kampung halaman, Mayang justru terjebak fatamorgana kehidupan TKI di Hong Kong.

Banyak hal dilalui Mayang, mulai dari percintaan, hubungan dengan majikan, serta masalah pelik sang kakak. Secara keseluruhan, film ini bertutur tentang dilema kehidupan Mayang di Hong Kong.

Judul Minggu Pagi di Victoria Park, dikatakan Lola juga mengandung arti khusus untuk para TKI di Hong Kong. Sebab, biasanya setiap Minggu para TKI berkumpul di Victoria Park.

Kebiasaan tersebut sudah dilakukan sejak lama. Di taman itu, para TKI saling bercerita tentang pekerjaan dan rasa rindu pada Tanah Air.

Senada dengan Lola, Noe selaku produser menuturkan, kehidupan TKI acap kali dianggap rendah oleh masyarakat. Status sebagai pembantu rumah tangga juga membuat para TKI malu dengan pekerjaan mereka. Padahal, menjadi TKI adalah sebuah pekerjaan mulia.

“Belum ada film Indonesia yang mengangkat kehidupan TKI di luar negeri. Padahal, sudah banyak berita-berita tentang ketidakadilan yang diterima TKI. Lewat film ini, saya akan mengabadikan kisah hidup TKI,” kata Noe.

Wajib Tonton

Film yang diproduksi oleh Pic[K] Lock Production ini, rencananya mulai tayang di bioskop pada April 2010. Sementara itu, syuting pertama dilaksanakan mulai 15 Oktober di Hong Kong. Noe menambahkan, film Minggu Pagi di Victoria Park juga wajib ditonton oleh para pekerja instansi pemerintah, khususnya Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Soeparno yang juga hadir di konferensi pers Minggu Pagi di Victoria Park berharap, film ini bisa membuka pandangan semua orang tentang TKI. Meskipun hanya sebagai TKI, mereka berhak mendapat keadilan dan persamaan hak. Apalagi, TKI merupakan aset negara yang menyumbang devisa terbesar, setelah minyak bumi dan gas.

Advertisements

3 comments on “Minggu Pagi di Victoria Park

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s